Energi alternatif

Salah satu langkah konkrit PLN yang akan diwujudkan hingga tahun 2009 adalah dengan membangun proyek PLTU 10.000 MW. Mungkin beberapa alasan memilih solusi ini karena selama ini kebutuhan listrik Negara 30 % disumbang oleh PLTU Suralaya yang berbahan baku batubara dan seperti yang dikemukakan diatas bahwa cadangan batubara nasional cukup tinggi. Permasalahannya adalah sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global, yaitu pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi dua kali lipat dari energi yang dihasilkan. Semisal, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan 35 unit. Maka, energi yang terbuang adalah 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun yang merupakan salah satu gas rumah kaca penyebab global warming.

Selanjutnya apabila kita menggunakan bahan bakar gas, memang relatif murah dan ramah lingkungan. Namun cadangan gas bumi kita terbatas. Belum lagi persaingan dengan konsumsi publik karena PT. Pertamina saat ini melakukan program konversi minyak tanah ke bahan bakar gas. Jelas hal ini merupakan dua hal yang kompetitif.

Selain itu ada juga pemanfaatan energi panas bumi bisa menjadi alternatif yang murah dan ramah lingkungan. Tetapi pemanfaatan energi panas bumi tidak bisa maksimal karena persediaannya sangat terbatas dan teknologi untuk mengelolanya dianggap mahal. Bagaimana dengan energi tenaga air? Energi ini termasuk yang paling murah untuk dimanfaatkan. Namun, kendala yang kerap terjadi adalah ketika musim kemarau tiba. Sumber-sumber air yang digunakan sebagai pembangkit seringkali menyurut dan jauh berkurang sehingga tidak dapat beroperasi secara optimal.

Selanjutnya bagaimana dengan teknologi nuklir? Mungkin secara teknologi bangsa kita sudah bisa mampu. Namun sejarah mengenai kasus teknologi ini di Uni Soviet maupun tragedi Hiroshima dan Nagasaki menjadi trauma bagi dunia pada umumnya. Tentunya permasalahannya adalah waktu sosialisasi yang cukup lama terhadap penanganan resiko dari teknologi ini.

Sebagai salah satu solusi masalah energi diatas yaitu energi matahari atau tenaga surya. Energi matahari yang dipancarkan ke planet bumi adalah 15.000 kali lebih besar dibandingkan dengan penggunaan energi global dan 100 kali lebih besar dibandingkan dengan cadangan batubara, gas, dan minyak bumi. Permasalahan energi matahari ini mungkin sedikit banyak mirip dengan energi nuklir. Sebenarnya secara teknologi bangsa Indonesia sudah mampu mengelolanya. Bahkan teknologi mutakhir telah mampu mengubah 10-20 % pancaran sinar matahari menjadi tenaga surya. Secara teoritis untuk mencukupi kebutuhan energi global, penempatan peralatan tersebut hanya memerlukan kurang dari satu persen permukaan bumi, bukankah suatu hal yang efisien!

Namun sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa bumi sehingga memiliki energi sinar matahari berlimpah tidak dapat memanfaatkannya secara baik. Pemanfaatan energi matahari selama ini baru digunakan sebagai pemanas air di rumah-rumah mewah maupun hotel, itupun masih produk impor. Padahal, di negara-negara Eropa utara yang relatif miskin sinar matahari, justru banyak memanfaatkan energi matahari sebagai energi terbaharukan, ramah lingkungan, dan murah. Bagaimana dengan bangsa Indonesia?

Pertimbangan Ekonomi

Mungkin kita pernah kaget karena harga minyak bumi yang terus melambung sempat menembus angkan US$ 76 per barel sehingga menyebabkan pembengkakan anggaran dan menekan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu pemanfaatan energi matahari merupakan solusi yang ekonomis. Jika ada pendapat bahwa pemanfaatan energi matahari memerlukan biaya tinggi, itu merupakan pendapat yang perlu dipertanyakan. Perlu diakui bahwa untuk investasi awal cukup mahal. Namun dalam biaya operasionalnya terbilang murah ketimbang pemanfaatan energi gas bumi maupun batubara. Justru kita mendapatkan bahan bakunya secara gratis!

Negara kita setiap tahunnya menadapat energi matahari sebesar 2.500 kW per jam-nya (sumber lainnya mengatakan bumi secara tak henti disinari energi sebesar 17 triliun kW). Jelas ini merupakan potensi. Mengutip tulisan dari Ivan A. Hadar dari Infid, energi matahari dapat dimanfaatkan secara solar thermal dan photogalvanic. Pada prinsipnya solar thermal yaitu sinar matahari diperkuat cermin yang mengalihkan ke alat penyerap berisi cairan. Cairan ini kemudian memanas dan menghasilkan uap yang membangkitkan generator turbo pembangkit tenaga listrik. Di California, AS, alat ini telah mampu menghasilkan listrik sebesar 354 MW. Dengan memproduksinya secara massal, harga satuan energi matahari ini di AS, hanya sekitar Rp 100.000 per kW per jam-nya. Hal ini tentu lebih murah ketimbang energi nuklir dan sama dengan energi dari pembangkit listrik berbahan baku fosil.

Sedangkan pembangkit listrik photogalvanic, pengunaannya menggunakan sel-sel photogalvanic. Sebagai akibat sengatan sinar matahari, sel-sel tersebut melepaskan elektron yang dipaksa berputar dengan dampak terjadinya aliran listrik. Sel-sel tersebut dikemas dan dijual dalam bentuk modul dan dapat digunakan pada teknologi tegangan tinggi. Memang untuk saat ini modulnya terbilang cukup mahal. Namun perkembangan kedepannya diperkirakan harga akan menurun. Sebab salah satu pasarnya adalah mobil tenaga listrik yang diramalkan akan menjadi mobil masa depan.

Lalu apa solusinya?

Berdasarkan uraian diatas, hendaknya pemerintah lebih proaktif untuk mencari sumber energi baru dan terbaharukan. Ada beberapa langkah yang dapat menjadi bahan pemikiran kita bersama. Pertama, diversifikasi penelitian dan pengembangan energi matahari. Dana untuk penelitian dan pengembangan energi alternatif perlu ditingkatkan tiap tahunnya. Kedua, dengan perkembangan teknologi, khususnya biaya produksi energi surya dapat bersaing dengan energi fosil. Ketiga, kemauan politik dari semua pihak harus tinggi. Sehingga apabila dilakukan produksi energi matahari secara masal, maka sumber energi ini tereksplorasi sebagai energi utama di masa depan.

Yang pasti, kedepannya kita tidak akan meninggalkan krisis energi bagi anak cucu bangsa Indonesia. Justru mewariskan teknolgi masa depan yang mutakhir. Teknologi yang murah, ramah lingkungan dan efisien.

sumber: //http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/pembangkit_listrik_tenaga_surya_memecah_kebuntuan_kebutuhan_energi_nasional_dan_dampak_pencemaran_lingkungan/

TNI-Angkatan Udara AS pasang "Solar Cell"

Kupang, 20/7 (FINROLL News) - Tentara Nasional Indonesia (TNI) bekerjasama dengan Angkatan Udara Amerika Serikat (Air Force USA) memasang sembilan "solar cell" atau listrik tenaga surya pada tujuh titik di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, dalam sebuah misi sosial yang digelar sejak 15 Juli.

"Sebanyak sembilan `solar cell` yang kita pasang di Desa Oebelo untuk membantu penerangan umum kepada masyarakat," kata Wakil Komandan Batalyon Seni Konstruksi XIII Kodam Jaya, Mayor Chris Hermawan yang diperbantukan dalam operasi "Pasific Angel" yang digelar TNI dan Angkatan Udara Amerika Serikat di Kupang, Senin.

Sembilan "solar cell" tersebut, kata Chris, dipasang di lima titik pompa air, satu titik di gedung serba guna desa tersebut yang terdiri atas dua "solar cell" dan satu titik lainnya yang juga terdiri atas dua "solar cell" di mushola setempat.

"`Solar cell` itu telah terpasang dan sudah bia dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Oebelo," katanya.

Dia mengatakan, sebelumnya di desa tersebut terdapat beberapa "solar cell", namun rusak dan tidak diperbaiki. Karena itu, ia meminta warga di sekitar untuk menjaga alat sarana penerangan dengan tenaga surya bantuan Angkatan Udara Amerika Serikat tersebut.

"Saya minta kepada warga yang rata-rata orang eks Timtim (eks pengungsi Timor Timur) untuk menjaga agar barang tersebut tidak rusak," katanya.

Ia menambahkan, di tiap satu kotak sarana penerangan itu, terdapat dua unit "solar cell". Semua fasilitas tersebut adalah bantuan dari Angkatan Udara Amerika Serikat, sedangkan TNI hanya membantu memperlancar tugas-tugas tentara Amerika Serikat yang tengah mengemban misi sosial di Kupang tersebut.

Selain memasang "solar cell" di tujuh titik, misi sosial itu juga memperbaiki satu buah jembatan dan saluran di desa tersebut yang rusak akibat longsor.

Sementara di Desa Naioni, kata Chris, TNI bersama Angkatan Udara AS melakukan beberapa kegiatan antara lain, mengecat kembali gedung Puskesmas Naioni bersama dua buah rumah dinas yang berada dalam satu kompleks.

Juga, menyediakan air bersih bagi warga di desa tersebut, dengan membangun bak penampung serta memasang instalasi pipa sepanjang 300 meter yang menghubungkan bak penampung dengan kompleks pemukiman warga.

Tujuan misi sosial yang dilakukan Angkatan Udara Amerika Serikat, kata Chris, untuk membantu masyarakat agar hidup sehat dengan ketersediaan sarana-prasarana yang memadai. "Kita gunakan sistem `button up` atau memberikan pelayanan dari bawah, sehingga masyarakat dapat terbantu dan mengurangi beban mereka," katanya.

Selain pemasangan lampu tenaga surya, pembangunan bak dan pemasangan pipa air bersih, TNI-Angkatan Udara AS, juga memberikan pelayanan kesehatan gratis, dengan jumlah pasien mencapai 4.061 orang, belum ditambah dengan pelayanan kesehatan di Desa Batakte.

Listrik Tenaga Surya

Pembangkit Listrik Tenaga Surya yaitu pembangkit yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Alat utamanya yaitu penangkap, pengubah dan penghasil lsitrik photovoltaic atau sering disebut modul (Panel Solar Cell). Dengan alat tersebut, sinar matahari diubah menjadi listrik melalui proses aliran-aliran elektron negatif, lalu menjadi menjadi aliran listrik DC yang akan langsung mengisi Battery/Accumulator sesuai tegangan dan arus yang diperlukan.
Rata-rata Produk Modul yang dipasarkan menghasilkan 12 sampai 18 VDC dan 0,5 sampai 7 Ampere. Modul memiliki kapasitas beraneka ragam, mulai dari 10 watt peak sampai 200 watt peak. Modul juga terdiri dari type cell monocrystal dan polycrystal.
Komponen inti dari pembangkit listrik tenaga surya ini adalah modul solar cell, regulator/controller, battery, Accumulator, Inverter DC to AC dan Beban/loader.
Kami memberikan pelayanan paket secara menyeluruh terhadap penjualan dan pemasangan lsitrik tenaga surya untuk rumah tangga atau produksi dengan paket 50 WP.
Dari pengiriman sampai instalasi pemasangan, per komponen panel listrik tenaga surya sampai keseluruhan komponen listrik tenaga surya semua kami layani.
Produk PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) ini sangat cocok untuk daerah yang belum terjangkau listrik seperti pedesaan, pegunungan dan perkebunan. Serta cocok juga untuk daerah yang sudah teraliri listrik.
Cocok untuk back up atau cadangan listrik bila terjadi pemadaman, sehingga sistem akan mengalihkan listrik cadangan yang diambil secara dari arus battery secara otomatis.
Untuk konsumen perkotaan dan perusahaan PLTS ini juga bisa dikombinasikan dengan listrik PLN untuk penghematan.

Kelebihan PLTS ini adalah :
1]. Tanpa BBM.
2]. Ramah Lingkungan (tanpa polusi suara).
3]. Tanpa Biaya Bulanan.
4]. Tidak memerlukan perawatan khusus.
5]. Cara pemasangan mudah
6]. Bisa dipindah-pindah
7]. Tahan hingga 25 tahun

Energi Solar Cell

energi adalah kata yang mempunyai makna sangat luas karena tidak adaaktivitas di alam raya ini yang bergerak tanpa energi dan itulah sebabnya kata salahseorang provesi di jepang bahwa hampir semua perselisihan di dunia ini, berpangkal pada perebutan sumber energi.

Secara umum sumber energi dikategorikan menjadi dua bagian yaitu non-reneable energy dan reneable energy. Sumber energi fosil adalah termasuk kelompok yang pertama yang sebagaian besar aktivitas di dunia ini menggunakan energi konvensional ini.

Sekitar tahun delapan puluhan ketika para ahli di Indonesia menawarkan sumber energi alternatif yang banyak digunakan di negara maju yaitu nuklir, banyak terjadi pertentangan dan perdebatan yang cukup panjang sehingga mengkandaskan rencana penggunaan sumber energi yang dinilai sangat membahayakan itu. Diantara usulan yang banyak dilontarkan kala itu adalah mengapa kita tidak menggunakan sumber energi surya. Memang tidak diragukan lagi bahwa solar cell adalah salah satu sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat menjanjikan pada masa yang akan datang, karena tidak ada polusi yang dihasilkan selama proses konversi energi, dan lagi sumber energinya banyak tersedia di alam, yaitu sinar matahari, terlebih di negeri tropis semacam Indonesia yang menerima sinar matahari sepanjang tahun.

Permasalahan mendasar dalam teknologi solar cell adalah efisiensi yang sangat rendah dalam merubah energi surya menjadi energi listrik, yang sampai saat ini efisiensi tertinggi yang bisa dicapai tidak lebih dari 20%, itupun dalam skala laboratorium.

Untuk itu di negara-negara maju, penelitian tentang solar cell ini mendapatkan perhatian yang sangat besar, terlebih dengan isu bersih lingkungan・yang marak digembar gemborkan.